Selasa, 17 Mei 2016

MANFAAT DAN BAHAYA PENGGUNAAN EM4

Em4 berisi 90% mikroba  lactobacilus sp, mikroba ini termasuk mikroba degradator kuat atau disebut sebagai pengurai bahan organik kuat atau dalam juga bisa disebut komposer kuat,
em4 ditemukan oleh Teruo Higa peneliti jepang, dimana untuk membuat kompos dijepang butuh waktu yang relatif lama hingga 4 - 8 bulan,

Teruo Higa menemukan teknologi em untuk mempercepat proses dekomposer di untuk digunakan oleh para petani jepang agar bisa lebih cepat dalam membuat pupuk kompos,
lambat laun produk ini masuk ke indonesia dan dijual di toko toko pupuk dan bibit,
lambat laun juga para petani dan para pengaya pupuk organik indonesia berlomba membuat em4 dan memasarkannya dengan tentunya harga yang bersaing, 20 ribu untuk 1 liter dibilang murah dan terjangkau untuk petani, tapi sayang seribu sayang pemahaman em4 ternyata banyak yang belum mengerti sehingga penggunaannya jadi salah kaprah dan cenderung tidak beraturan,
em4 adalah komposter murni, artinya digunakan hanya sebagai komposer pada waktu merubah residu organik menjadi kompos

dalam proses komposisasi itu tentntunya diperlukan o2 sebagai bahan tambahannya,terus apakah ada masalah?

masalah akan timbul ketika proses komposer  diadakan dilahan yang sedang aktif, misal disawah yang sudah ditanami padi,
dimana masalahnya?????
jika dilakukan dilahan yang aktif maka yang akan terjadi adalah pengambilan unsur 02 di dalam tanah dekat tumbuhan yang sedang dibudidaya,
proses kompos ini akan menimbulkan panas yang bisa mencapa 60 derajat celcius, dan membutuhkan O2, bayangkan jika terjadi dekat akar tanaman budidaya,
mereka akan pengap dan stress, kalau tidak kuat mungkin mati ...

lalu bagaimana seharusnya????
sebaiknya proses kompos  itu dilakukan diluar lahan aktif agar tidak mengganggu tanaman inti, baru setelah menjadi pupuk kompos dipindahkan ke lahan yang aktif,
jika em4 dijadikan sebagai POC yang diguyur langsung ke pohon itu adalah sebuah kesalahan an buang buang biaya
dan sekalilagi em4 bukan pupuk hayati tapi merupakan komposer aktif

Minggu, 10 April 2016

CARA MEMPERBANYAK TANAMAN LADA

Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh memanjat. Tanaman ini dapat diperbanyak secara vegetatif (dengan setek batang) atau secara generatif (dengan biji). Pada umumnya perbanyakan dilakukan secara vegetatif  yaitu menggunakan setek batang (sulur), karena lebih mudah, murah, cepat berproduksi dan mempunyai sifat-sifat yang sama dengan induknya. Perbanyakan dengan biji hanya umumnya dilakukan untuk tujuan penelitian. Tanaman yang berasal dari biji lama berproduksi dan sifat-sifatnya dapat berubah tidak sama dengan induknya, karena menyerbuk silang.

Pada umumnya petani lada melakukan penanaman langsung di kebun dengan menggunakan setek panjang yang terdiri dari 3-7 ruas. Untuk rehabilitasi dan pengembangan areal lada dibutuhkan bahan tanaman dalam jumlah banyak, akibatnya penanaman dengan setek panjang kadang-kadang tidak mencukupi dan menjadi tidak ekonomis. Pada tahun 2012 luas areal pertanaman lada mencapai luasan 178.618 ha dengan produksi 88.160 ton. Menurut estimasi setiap tahun akan dilakukan perluasan atau rehabilitasi pertanaman sebanyak 10%, sehingga setiap tahunnya akan diperlukan benih sebesar 28.578.880 - 35.723.600 tanaman (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2013). Kebutuhan benih yang demikian banyak sulit dipenuhi oleh kebun induk lada secara konvensional.

 Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan pembangunan kebun induk lada khusus untuk produksi benih  secara massal dalam jumlah besar dan berkesinambungan seperti pembangunan kebun induk mini. Kebun induk mini lada adalah kebun benih sumber lada yang dibangun dalam luasan relatif sempit. Sebagai contoh secara konvensional untuk menanam pohon induk lada sebanyak 1.600 pohon yang semula diperlukan areal seluas 1 ha (10.000 m²), sedangkan untuk membangun kebun induk mini dengan jumlah tanaman yang sama hanya diperlukan lahan 128 m² (4 bedengan berukuran  1,2 x 16 m, jarak antar bedeng 0,6 m dengan jarak tanam 20 x 25 cm). Mengingat kebutuhan benih lada yang begitu banyak diperlukan alternatif di antaranya menggunakan benih satu buku berdaun tunggal. Wahid (1981) dan Zaubin (1981) merekomendasikan penggunaan bahan tanaman setek satu buku berdaun tunggal yang disemai terlebih dulu. Keuntungan cara tersebut adalah dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat dan dapat menghemat penggunaan bahan tanaman sebesar 400% dibandingkan setek panjang tujuh ruas. Untuk itu diperlukan pendirian kebun induk lada khusus untuk produksi benih secara massal dalam jumlah besar dan berkesinambungan agar benih dapat terpenuhi baik kualitas maupun kuantitas.

1. Sumber Bahan Tanaman

Tanaman lada pada prinsipnya hanya mempunyai dua macam sulur (dimorphic plant), yaitu sulur panjat dan sulur/cabang buah. Sulur panjat adalah sulur yang tumbuhnya ke atas, memanjat/melekat pada tiang panjat/tajar. Sulur panjat yang terlepas/tidak melekat pada tiang/tajar akan berubah fungsi menjadi sulur gantung dan sulur tanah/cacing (Gambar 1). Kedua sulur tersebut tidak direkomendasikan sebagai bahan tanaman karena tidak mempunyai sifat seperti sulur panjat dan harus selalu dibuang. Sulur/cabang buah, fungsi utamanya adalah membentuk buah. Di samping itu dapat juga digunakan untuk sumber bahan tanaman lada perdu yang tidak memerlukan panjatan (Wahid dkk, 2005).
Sulur panjat merupakan sumber bahan tanaman paling baik untuk budidaya lada dengan tiang panjat/tajar (Wahid dan Yufdy, 1988).  Sebagai sumber bahan tanaman, setek sulur panjat sebaiknya diambil dari tanaman lada yang berumur 1 - 2 tahun dengan umur fisologis lebih kurang 6 - 9 bulan (tidak terlalu tua, tetapi sudah berkayu) tumbuh kuat, daunnya berwarna hijau segar, sehat serta mempunyai akar lekat yang banyak pada buku ruasnya (Syakir dan Dhalimi 1996).
Bahan tanaman untuk perbanyakan (setek batang) sebaiknya diambil dari tanaman lada yang belum berproduksi. Apabila bahan tanaman diambil dari tanaman produksi maka akan berdampak kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman dan kesinambungan produksi buah lada.
Jarak tanam kebun induk konvensional  adalah 1,5 x 1,5 m atau 1,75 x 1,75 m,  bunga yang terbentuk harus selalu dibuang agar pertumbuhan tanaman lada menjadi optimal untuk memproduksi bahan tanaman/setek batang (Yufdy dan Wahid, 1988; Zaubin dan Wahid, 1996).
Guna menghemat lahan untuk produksi setek batang atau kebun perbanyakan lada Yufdy dan Wahid (1988) serta Rukmana (2010) merekomendasikan untuk menanam lada dalam bedengan berukuran 1,2 X 16 m, jarak antar bedeng 0,6 m, dan jarak tanam lada 20 x 25 cm). Untuk memperoleh 1600 tanaman sebagai sumber setek, hanya diperlukan empat bedengan dengan luas total lahan sekitar 128 m2 yang disebut kebun induk mini.

2. Syarat mutu benih lada menurut SNI 01-7155-2006

2.1.    Spesifikasi persyaratan kebun induk
No.
Jenis Spesifikasi
Satuan
Persyaratan
1
Kemurnian varietas
%
≥ 98
2
Umur pohon induk
Bulan
≥ 7
3
Kesehatan tanaman terpilih
%
100
Sumber : SNI 01-7155-2006
2.2.    Spesifikasi persyaratan persemaian
No.
Jenis Spesifikasi
Satuan
Persyaratan
1
Kesehatan lingkungan
%
100
2
Intensitas sinar matahari
%
50-75
3
Suhu udara
...°C
22-30
4
Kelembaban (RH)
%
>80
5
Kelengasan tanah
%
80-100
Sumber : SNI 01-7155-2006
2.3.    Spesifikasi persyaratan mutu benih
No.
Jenis Spesifikasi
Satuan
Persyaratan
1
Benih murni %
100
2
Kesehatan benih %
100
3
Jumlah ruas (lada panjat) ruas
5-7
4
Jumlah daun (lada perdu) helai daun
5-8
5
Asal benih ruas ke ... dari pucuk
≥4
Sumber : SNI 01-7155-2006
3. Varietas Lada
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) telah melepas tujuh varietas lada yaitu Petaling 1, Petaling 2, Natar 1, Natar 2, Chunuk RS, LDK RS, dan Bengkayang dengan karakteristik masing-masing seperti pada Tabel 1 (Syakir. 2002)
Tabel 1. Karakteristik 7 varietas lada yang telah dilepas Balittro

No
Varietas
Karakteristik
Produksi
(ton/ha)
Kadar
Minyak
(%)
Ketahanan terhadap penyakit
Daya adaptasi terhadap
Busuk pangkal
batang
Kuning
Cekaman
Air
Kelebihan air
1
2
3
4
5
6
7
Petaling 1
Petaling 2
Natar 1
Natar 2
Lampung Daun Kecil RS
Chunuk RS
Bengkayang LU
4,480 (Lp)
4,120 (Lp)
4,000 (Lh)
3,520 (Lh)
3,685 (Lp)
1,970 (Lp)
4,669 (Lp)
3,68
4,61
3,27
3,13
3,83
3,65
3,68
Rentan
Medium-rentan
Medium-toleran
Rentan
Toleran
Toleran
Toleran
Medium
Rentan
Rentan
Medium
Rentan
Rentan
Medium
Kurang
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
-
-
Sedang
Sedang
Sedang
Kurang
-
-
-

Sumber : Syakir (2002)
Keterangan :
Lp = Lada putih
Lh = Lada hitam
Hasil dari 1 x panen
Chunuk berbuah terus menerus

PENGGUNAAN PETROGENOL UNTUK MENGATASI LALAT BUAH

Petunjuk Penggunaan Petrogenol 800L

Dasar penggunaan Petrogenol 800 L untuk mengendalikan lalat buah dacus SPP petrogenol 800 L mengandung bahan aktif metal eugenol yang memiliki sifat bau khas,mampu menarik lalat buah jantan familia tephritidae,terutama genus dacuss spp.dengan mengunakan suatu perangkap lalat buahjantan akan tertarik dan terperangkap masuk perangkap sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat perkawinan dan akhirnya mengurangi populasi lalat jantan,mengurangi tingkat perkawinan dan akhirnya mengurangi populasi lalat buah berikutnya.

Membuat perangkap lalat buah

Cara yang cukup mudah dan murah yaitu menggunakan bekas wadah air minum yang berbentuk tabung botol yang lehernya bebrrbentuk kerucut.bagian tabung yang berbentuk kerucut dipotong kemudian dipasang kembali secar terbailik,bagian mulut tabung menghadapkedalam tabung.bagian sambung dilem atau diplester dengan selotip.

Memasang Atraktan Petrogenol 800L

perangkap pada dahan atau ranting setinggi 2-3 meter dari tanah atau dibagian dalam tajuk pohon. Atraktan petrogenol 800L dipaparkan pada medium kapas.mampatkan kapas dengan dipilin sampai sebesar ibu jari kemudian di ikat dengan kawat kecil.teteskan petrogenol 800L sebanyak 0,125-0,25 ml pada kaps sampai basah namun tidak menetes.pasang pilinan kapas yang sudah diberi petrogenol 800 L didalam tabung perangkap sedemikian rupa sehingga mengantung pada bagiantengah tabung perangkap.gantungkan

Dosis pengunaan Petrogenol 800L

Pemasangan perangkap dikerjakan sejak pembentukan buah sampai panen.pemberian petrogenol 800L pada kapas dikerjakan setiap 4 minggu sekali.dalm 1 Ha pertanaman dapat dipasang 25 titik penempatan dengan jarak antar masing perangkap 20 meter.

 

Rabu, 30 Maret 2016

PENANGANAN LALAT BUAH PADA TUMBUHAN



PENCEGAHAN LALAT BUAH PADA TANAMAN

Seringkali petani mengalami kerugian yang banyak karena lalat buah ini. Lalat buat ini merupakan salah satu hama yang paling merusak pertanian, seperti menyerang pada pohon buah-buahan maupun pada tanaman sayur-sayuran.
Ciri ciri tanaman yang terserang lalat buah adalah tampaknya noda hitam yang berasal dari  bekas tusukan oviposistor lalat buah dewasa saat bertelur.
Ada beberapa cara untuk pencegahan dari hama lalat buah ini yaitu
  • dengan caraMembungkus buah ketika pentil dengan plastic.
  • Menanam tanaman tumpeng sari seperti ketumbar yang mana bau dari ketumbar ini efektif untuk mengusir lalat buah.
  •         Memberikan perangkap petrogenol /  atraktan lalat buah, yaitu dengan cara meneteskannya di kapas dan menempatkan perangkap pada botol plastic yang dilubangi pada ke empat sisi botol. Perangkap tersebut dipasang ditiang atau ranting pohon setinggi 2 -3 meter dari permukaan tanah. Lahan 1 hektar membutuhkan 16 buah perangkap.
  •       Dengan menggunakan pestisida untuk mematikan lalat buah dengan dosis 10 ml pestisida per 100 liter air.