Em4 berisi 90% mikroba lactobacilus sp, mikroba ini termasuk mikroba
degradator kuat atau disebut sebagai pengurai bahan organik kuat atau
dalam juga bisa disebut komposer kuat,
em4 ditemukan oleh Teruo Higa peneliti jepang, dimana untuk membuat kompos dijepang butuh waktu yang relatif lama hingga 4 - 8 bulan,
Teruo Higa menemukan teknologi em untuk mempercepat proses dekomposer di untuk digunakan oleh para petani jepang agar bisa lebih cepat dalam membuat pupuk kompos,
lambat laun produk ini masuk ke indonesia dan dijual di toko toko pupuk dan bibit,
lambat laun juga para petani dan para pengaya pupuk organik indonesia berlomba membuat em4 dan memasarkannya dengan tentunya harga yang bersaing, 20 ribu untuk 1 liter dibilang murah dan terjangkau untuk petani, tapi sayang seribu sayang pemahaman em4 ternyata banyak yang belum mengerti sehingga penggunaannya jadi salah kaprah dan cenderung tidak beraturan,
em4 adalah komposter murni, artinya digunakan hanya sebagai komposer pada waktu merubah residu organik menjadi kompos
dalam proses komposisasi itu tentntunya diperlukan o2 sebagai bahan tambahannya,terus apakah ada masalah?
masalah akan timbul ketika proses komposer diadakan dilahan yang sedang aktif, misal disawah yang sudah ditanami padi,
dimana masalahnya?????
jika dilakukan dilahan yang aktif maka yang akan terjadi adalah pengambilan unsur 02 di dalam tanah dekat tumbuhan yang sedang dibudidaya,
proses kompos ini akan menimbulkan panas yang bisa mencapa 60 derajat celcius, dan membutuhkan O2, bayangkan jika terjadi dekat akar tanaman budidaya,
mereka akan pengap dan stress, kalau tidak kuat mungkin mati ...
lalu bagaimana seharusnya????
sebaiknya proses kompos itu dilakukan diluar lahan aktif agar tidak mengganggu tanaman inti, baru setelah menjadi pupuk kompos dipindahkan ke lahan yang aktif,
jika em4 dijadikan sebagai POC yang diguyur langsung ke pohon itu adalah sebuah kesalahan an buang buang biaya
dan sekalilagi em4 bukan pupuk hayati tapi merupakan komposer aktif
em4 ditemukan oleh Teruo Higa peneliti jepang, dimana untuk membuat kompos dijepang butuh waktu yang relatif lama hingga 4 - 8 bulan,
Teruo Higa menemukan teknologi em untuk mempercepat proses dekomposer di untuk digunakan oleh para petani jepang agar bisa lebih cepat dalam membuat pupuk kompos,
lambat laun produk ini masuk ke indonesia dan dijual di toko toko pupuk dan bibit,
lambat laun juga para petani dan para pengaya pupuk organik indonesia berlomba membuat em4 dan memasarkannya dengan tentunya harga yang bersaing, 20 ribu untuk 1 liter dibilang murah dan terjangkau untuk petani, tapi sayang seribu sayang pemahaman em4 ternyata banyak yang belum mengerti sehingga penggunaannya jadi salah kaprah dan cenderung tidak beraturan,
em4 adalah komposter murni, artinya digunakan hanya sebagai komposer pada waktu merubah residu organik menjadi kompos
dalam proses komposisasi itu tentntunya diperlukan o2 sebagai bahan tambahannya,terus apakah ada masalah?
masalah akan timbul ketika proses komposer diadakan dilahan yang sedang aktif, misal disawah yang sudah ditanami padi,
dimana masalahnya?????
jika dilakukan dilahan yang aktif maka yang akan terjadi adalah pengambilan unsur 02 di dalam tanah dekat tumbuhan yang sedang dibudidaya,
proses kompos ini akan menimbulkan panas yang bisa mencapa 60 derajat celcius, dan membutuhkan O2, bayangkan jika terjadi dekat akar tanaman budidaya,
mereka akan pengap dan stress, kalau tidak kuat mungkin mati ...
lalu bagaimana seharusnya????
sebaiknya proses kompos itu dilakukan diluar lahan aktif agar tidak mengganggu tanaman inti, baru setelah menjadi pupuk kompos dipindahkan ke lahan yang aktif,
jika em4 dijadikan sebagai POC yang diguyur langsung ke pohon itu adalah sebuah kesalahan an buang buang biaya
dan sekalilagi em4 bukan pupuk hayati tapi merupakan komposer aktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar